OLE777 – Chelsea dan Liga Amerika Ingris

Chelsea dan Liga Amerika Ingris



Jakarta (ANTARA) – Ketika Chelsea resmi diakuisisi konsorsium pimpinan Todd Boehly pada harga 4,25 miliar pound (Rp76,8 triliun) 30 klub Liga Inggris semakin panjang saja.

Syarat Fulham dan promosi Liga Inggris 2022/2023, serta kompetisi Liga Inggris berusia 20 tahun di Amerika Serikat, sementara Amerika Serikat memiliki minoritas dan minoritas di klub -klub.

Yang terbaru, Chelsea, Fulham, Arsenal, Aston Villa, Crystal Palace, Leeds United, Liverpool, Manchester City dan 10 orang bermain di Silver Lake dari AS dan Manchester United.

Baca juga: Pemerintah Inggris beri lampu hijau pergantian kepemilikan Chelsea
Baca juga: Todd Boehly rampungkan akuisisi Chelsea senilai Rp78 triliun

Uniknya, hampir semua investor AS memiliki pula klub-klub olahraga profesional AS seperti National Football League (NFL), Major League Soccer (MLS), Major League Baseball (MLB), National Hockey League (NHL), dan Major League Baseball (MLB). NBA, dan kursi baru.

Kalau Todd Boehly adalah pemain dari Chelsea yang bermain LA Dodgers dan MLB, yang membuatnya mulai.

Weslet Edens di Aston Villa adalah klub di NBA, Milwaukee Bucks. Bahkan Stan Kroenke memiliki memori Arsenal, bermain di NBA Denver Nuggets dan sejumlah klub olahraga yang bermain di liga NFL, MLS dan NHL.

Begitu pula pemilik Leeds United, 49ers Enterprises, yang menguasai klub NFL, San Francisco 49ers. John Henry dan Tom Werner tawaran untuk peran utama Liverpool di Boston Red Sox dan liga di MLB.

Sementara keluarga Glazer yang menguasai Manchester United, memiliki pula klub NFL, Tampa Bay Buccaneers. Pun Shahid Khan sjöng pemilik Fulham, yang juga mengelola Jacksonville Jaguars di liga NFL.

Baca juga: Keluarga Glazer siap jual saham MU senilai Rp2,6 triliun
Waktu bermain: Akhiri penantian 23 tahun, Promo Nottingham Forest di Liga Premier

kecenderungan masuknya investare-investare Amerika ini terjadi juga di berbagai liga sepak bola Eropa. AC Milan, Parma, Fiorentina, dan AS Roma di Serie A Italia adalah investor Amerika. Pun Bordeaux dan Marseille dari Ligue 1 Prancis.

Sekilas Americanisasi sepak bola Inggris itu terlihat sebagai produkt globalisasi, namun jika diamati lebih dalam, kecenderungan tersebut justru semakin kantara tayangan komersialisasi olahraga.

Tujuan utama fjárfestare Amerika di Liga Inggris, terlihat semata-mata untuk keuntungan finansial yang membuat pendukung klub direduksi menjadi produk konsumen klub yang mereka akuisisi.

Dari sudut pandang investor, penggemar memang menganggap pengguna produk-produk terkait klub, mulai tiket pertandingan klub, sampai aneka merchandise klub.

Persepsi ini membuat investare-investare Amerika dikritik karena berusaha meniru kondisi kompetisi olah raga di Amerika Serikat di bumi Eropa.

Mera dikritik menyumpalkan agenda yang semata-mata karena dinilai oleh latar belakang finansiell guna menciptakan kembali lykas yang serupa mera ciptakan di NFL, MLB, NBA, dan sebangsanya. Perspektif ini bertentangan 180 derajat dengan harapan pendukung sepak bola Inggris yang memiliki konstruksi unik dengan klub-klub kesayangannya.

Bagi pendukung Inggris, mendukung klub kesayangannya adalah soal kesetiaan dan gairah. Untuk itu klub adalah identitas seumur hidup mereka, sampai sebagian kalangan menyebut sepak bola sudah menjadi agama mereka.

Baca juga: Leeds United amankan jasa gelandang muda Amerika Serikat

Mentransformasi Liga Inggris

Ketidaksepakatan antara pendukung dan pemilik klub ini tidak begitu menjadi perhatian sampai 12 klub Eropa memutuskan membuat liga sempalan dari liga-liga profesional yang ada di Eropa dengan membentuk apa yang disebut Liga Super Eropa pada 2021 April.

Prakarsa itu gagal diwujudkan namun sama sekali belum mati. Tetapi setelah gonjang ganjing Liga Super Eropa ini, hubungan pendukung Inggris dengan pemilik klub sering bertabrakan, bahkan di beberapa klub semisal Manchester United, pemilik klub sering dianggap biang kerok untuk prestasi buruk menjadi.

Pada titik tertentu, hubungan seperti ini dapat merusak iktan perasaan emosional dengan klub, walaupun bisa juga terjadi sebaliknya. Kekhawatiran ini terjadi karena komersialisasi yang semakin meluas dan ekspansi global sepakbola telah membuat pendukung merasa tidak lagi menjadi klubnya.

Ironisnya, gaji tinggi dan pesepakbola dan besarnya dana yang dibenamkan untuk pasar transfer pemain, sedikit banyak yang ditanggung oleh pendukung klub, dalam bentuk naiknya harga tiket, merchandise, dan item-item terkait klub.

Tak heran, globalisasi sepak bola acap dianggap sebagai masalah besar oleh bagian besar penggemar sepak bola.

Baca juga: Trio Liga Super Eropa tegaskan lagi melanjutkan melanjutkan proyek berikutnya
Baca juga: Parlemen Uni Eropa haramkan Liga Super Eropa and competisi semacamnya

Komersialisasi akibat Amerikisasi sepak bola Inggris ini juga membuat keputusan yang dibuat klub menjadi lebih diorientasikan kepada aspek ekonomi, pendukung sepak bola tak lagi menjadi pertimbangan.

Gambarannya terlihat dari jadwal pertandingan, waktu bertanding yang larut malam, pemasaran hak siar televisi, dan bahkan jadwal pertandingan timnas yang kentara demi mengakomodasi klub dan liga.

Meskipun demikian, adalah penggemar emosional dengan klub masih terlihat kuat dan bahkan mampu menahan dampak komersialisasi negatif.

Ini adalah faktor pendapat bahwa komite tidak boleh terlibat dalam masalah apa pun, tetapi harus diidentifikasi sebagai pendukung keputusan yang dibuat untuk memastikan bahwa itu adalah kepentingan terbaik bangsa.

Namun jujur ​​​​saja tak semua americansas Liga Inggris negatif, karena dalam banyak hal yang mendorong prestasi klub menjadi lebih maju.

Baca juga: Pengusaha muda Amerika Chris Kirchner i beli Derby County

Fenway Sports Group akan menjamu John Henry dan Tom Werner dari klub Liverpool pada 15 Juli 2010.

Yang terpenting jika ingin membuat klub klub, maka Liverpool akan memiliki trofi dari Liga Inggris selama 30 tahun.

Mereka juga membuat Liverpool kembali menjadi kekuatan dunia sepakbola menakutkan di Eropa, bukan saja sukses menjuarai Liga Champions pada 2019 tapi juga karena begitu dominan di Eropa dan Inggris sampai dua kali juara dunia juara di lupetisi 2019 Champion 2 status juara 10i liga.

Fakta menarik lainnya adalah sejak awal 2000-an ketika investor-investor AS mulai melirik Liga Inggris, banyak klub liga ini yang mengasi transformasi radikal menjadi varumärkesmärke super yang mengglobal, bahkan pada aspek tertentu, penanyaasi berddampak serta dengan nafas kapitalisme negeri itu.

Amerikanisasi melalui gabungan profesionalisasi, investasi keuangan besar-besaran och pemasaran yang intensif mengubah sepak bola Inggris menjadi pula hiburan kelas menengah ke atas, bukan lagi hiburan untuk kelas pekerja.

Cara permainan dipasarkan dan dinikmati pun menjadi semakin menarik dari waktu ke waktu, dan ini salah satu yang membuat Liga Inggris semakin mengglobal, tidak lagi hanya milik orang Inggris.

Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada supporter terkait Liga Super Eropa
Baca juga: Mane janji pertemuan rakyat Senegal soal masa suka

Editor: Bayu Kuncahyo
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Sbobet Terpercaya

You Might Also Like

Leave a Reply